Karhutla Bengkalis Capai 8.573 Hektare, Polres Perkuat Sinergi Cegah Api Meluas
BENGKALIS, Riausindo.com – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Bengkalis menjadi perhatian serius pemerintah pusat dan daerah. Berdasarkan pantauan citra satelit hingga 28 September 2026, luas area yang terdeteksi terdampak Karhutla mencapai 8.573,25 hektare dengan 73 titik api.
Kondisi tersebut menjadi salah satu fokus dalam kegiatan Ekspos Capaian Restorasi Gambut dan Pencegahan Karhutla yang digelar di Rumah Runding Restorasi, Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, Bengkalis, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni, Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo, Kapolres Bengkalis AKBP Eko Rubiyanto serta jajaran Forkopimda dan pemangku kepentingan lainnya.
Dalam pemaparan Pemkab Bengkalis, hasil pengecekan lapangan per 22 September 2026 mencatat luas Karhutla sekitar 946 hektare dengan 87 titik api. Sementara berdasarkan citra satelit pada 28 September 2026, luasan terdeteksi mencapai 8.573,25 hektare dengan 73 titik api.
Mengantisipasi meluasnya kebakaran, Pemkab Bengkalis telah menetapkan status siaga darurat Karhutla, mengaktifkan Satgas Operasi Bersama, meningkatkan patroli serta memperkuat koordinasi lintas instansi. Sarana dan prasarana pemadaman juga terus dioptimalkan untuk menghadapi potensi kebakaran di lapangan.
Kapolres Bengkalis AKBP Eko Rubiyanto mengatakan penanganan Karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Polisi, kata dia, tidak hanya mendukung upaya pemadaman, tetapi juga pencegahan dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan.
"Penanganan Karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi seluruh unsur, mulai dari pemerintah, TNI-Polri, perusahaan hingga masyarakat. Polres Bengkalis berkomitmen mendukung setiap upaya pencegahan, penanganan dan penegakan hukum terhadap Karhutla," tegas Eko.
Selain penanganan kebakaran, pemerintah juga mendorong langkah jangka panjang melalui perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut. Program yang dilakukan antara lain restorasi dan pembasahan gambut, pengelolaan tata air, penguatan kelembagaan masyarakat, RPPEG, Transfer Anggaran Berbasis Ekologi serta pembukaan lahan tanpa membakar.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menekankan pentingnya mitigasi dan pencegahan, terutama menjaga gambut agar tidak mengering. Kondisi gambut yang kering dinilai meningkatkan risiko kebakaran sekaligus emisi karbon.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peninjauan dan demonstrasi lapangan, termasuk sekat kanal, sistem tata air dan berbagi air, Monumen Bitangor, prototipe pemantauan penurunan permukaan tanah atau land subsidence, serta pengeboran gambut.
Polres Bengkalis memastikan sinergi bersama pemerintah, TNI, masyarakat dan pemangku kepentingan akan terus diperkuat. Masyarakat juga diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun aktivitas pembakaran yang berpotensi memicu Karhutla.
( Ocu Ad )
Tulis Komentar