Wakapolda Buka Pelatihan Tim RAGA Gelombang II, 210 Personel Disiapkan Hadapi Geng & Aksi Anarkisme
Kampar,(Riausindo.com) – Kepolisian Daerah (Polda) Riau kembali menggelar Pelatihan Tim RAGA (Riau Anti Geng dan Anarkisme) tahun 2026. Pelatihan gelombang II ini resmi dibuka oleh Wakapolda Riau Brigjen Pol Hengki Haryadi di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Riau, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Senin (2/2/2026).
Sebanyak 210 personel mengikuti pelatihan tersebut, terdiri dari anggota Polda Riau, Polres/Polresta jajaran, serta Polisi Pamong Praja Provinsi Riau yang dilibatkan sekitar 10 persen dari total peserta. Pelatihan berlangsung selama 2 hingga 7 Februari 2026.
Upacara pembukaan diawali dengan menyanyikan Mars Polri, dilanjutkan pemasangan tanda peserta pelatihan. Kegiatan dipimpin langsung oleh Wakapolda Riau dan dihadiri Kasat Pol PP, para Pejabat Utama (PJU) Polda Riau, serta Kapolres jajaran.
Dalam amanatnya, Brigjen Pol Hengki Haryadi menegaskan bahwa tantangan kamtibmas saat ini semakin kompleks seiring cepatnya perubahan sosial di era disrupsi.
Fenomena kejahatan jalanan, geng, hingga aksi anarkisme kerap muncul secara spontan, dipicu emosi, provokasi, dan pengaruh media sosial.
“Pola kejahatan terus berubah. Karena itu, Polri tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara-cara lama. Kita harus lebih peka, cepat membaca situasi, dan hadir sejak awal agar konflik tidak berkembang,” ujar Hengki.
Menurutnya, Tim RAGA merupakan program unggulan Polda Riau yang menitikberatkan pada pendekatan preventif dan preemtif.
Tim ini dirancang untuk hadir lebih awal di ruang-ruang rawan, melakukan patroli dialogis, serta meredam potensi gangguan sebelum menjadi konflik terbuka.
“Patroli adalah tulang punggung kepolisian. Kejahatan terjadi karena bertemunya niat dan kesempatan. Tugas kita memperkecil kesempatan itu,” tegasnya.
Selain pencegahan, pelatihan ini juga membekali personel dengan kemampuan public speaking, patroli yang terstruktur, hingga kemampuan represif secara profesional dan terukur.
Penegakan hukum, lanjut Hengki, tetap penting namun merupakan langkah terakhir (ultimum remedium) setelah upaya pembinaan dan pencegahan dilakukan.Ia juga menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam pelaksanaan tugas.
Tim RAGA diharapkan tidak hanya hadir dengan kekuatan, tetapi mampu merebut hati dan kepercayaan masyarakat (winning hearts and minds).
“Polri yang didengar, dihormati, dan dipercaya akan jauh lebih efektif dibandingkan Polri yang hanya ditakuti,” katanya.
Pelatihan Tim RAGA gelombang II ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Polda Riau menjawab tuntutan masyarakat di era digital, termasuk memantau dinamika sosial melalui media sosial agar potensi konflik dapat diantisipasi lebih dini.
Wakapolda berharap seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan disiplin, rasa bangga, dan tanggung jawab tinggi, sehingga mampu bertindak tegas namun tetap menjunjung tinggi nilai profesionalisme dan humanisme demi terwujudnya keamanan dan ketertiban masyarakat di Provinsi Riau.
( Ocu Ad )
Tulis Komentar