Duka Konservasi Riau, Gajah Jovi Tutup Usia Setelah Berjuang Lawan Infeksi dan Myopati Berat

Selasa, 04 Agustus 2026 - 13:24:14 WIB

PEKANBARU,(Riausindo.com) – Duka mendalam menyelimuti dunia konservasi Indonesia. Gajah binaan Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas bernama Jovi akhirnya mengembuskan napas terakhir pada Senin (3/8/2026) pukul 20.47 WIB setelah menjalani perawatan intensif selama 34 hari akibat komplikasi infeksi saluran pencernaan dan pernapasan yang berujung pada myopati berat atau gangguan otot. 

Kepergian gajah jantan berusia sekitar 46 tahun itu menjadi kehilangan besar bagi upaya pelestarian gajah Sumatera di Provinsi Riau.

Jovi bukan sekadar satwa binaan. Selama lebih dari dua dekade sejak bergabung di PLG Minas pada 18 Februari 1998, gajah asal Kabupaten Indragiri Hulu itu menjadi ujung tombak berbagai operasi mitigasi konflik antara manusia dan gajah liar di sejumlah wilayah Riau. 

Perannya membantu penyelamatan satwa liar sekaligus melindungi masyarakat menjadikan Jovi sebagai salah satu ikon konservasi yang memiliki jasa besar bagi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.

Pelaksana Harian Kepala BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, menjelaskan gejala sakit mulai muncul pada 1 Juli 2026. Saat itu Jovi mengalami kelemahan fisik, kehilangan nafsu makan, tremor, kekakuan pada kaki, belalai, dan ekor hingga kesulitan berdiri. 

Tim dokter hewan segera bergerak memberikan penanganan sesuai standar operasional melalui terapi infus selama 24 jam, antibiotik, vitamin, antiinflamasi, asam amino, terapi suportif, serta pemeriksaan laboratorium secara berkala.

Koordinator Tim Medis BBKSDA Riau, drh. Rini Deswita, mengungkapkan kondisi Jovi sempat menunjukkan harapan. Pada hari keenam perawatan, gajah tersebut mampu berdiri dan berjalan beberapa langkah, sementara hasil pemeriksaan darah memperlihatkan penurunan tingkat infeksi. 

Namun perkembangan positif itu tidak berlangsung lama karena kondisi jaringan otot terus melemah hingga berkembang menjadi myopati berat yang membuat Jovi kembali terbaring dan tidak mampu berdiri.

Memasuki Minggu (2/8/2026), kondisi Jovi kembali memburuk. Ia berhenti makan dan minum sehingga tim medis meningkatkan terapi intensif dengan dukungan Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan bersama dokter hewan dari berbagai unit. 

Berbagai langkah penyelamatan terus dilakukan, termasuk pemberian cairan melalui infus, oral, maupun rektal, namun kondisi kesehatannya terus menurun.

Puncaknya terjadi pada Senin (3/8/2026). Sekitar pukul 16.00 WIB suhu tubuh Jovi melonjak hingga mencapai sekitar 40 derajat Celsius. 

Menjelang malam, tepat pukul 20.43 WIB, Jovi mengalami tremor hebat sebelum akhirnya dinyatakan mati empat menit kemudian, yakni pukul 20.47 WIB. 

Tim medis langsung melakukan nekropsi dan mengambil sampel organ untuk memastikan penyebab kematian secara ilmiah sebelum jenazah dimakamkan sesuai prosedur.

Kepergian Jovi meninggalkan duka mendalam bagi para dokter hewan, paramedis veteriner, mahout, dan seluruh petugas lapangan yang selama 34 hari berjuang tanpa mengenal waktu untuk menyelamatkannya. 

BBKSDA Riau berharap kisah Jovi menjadi pengingat pentingnya menjaga habitat gajah Sumatera, mengurangi konflik manusia dengan satwa liar, serta memperkuat kolaborasi semua pihak agar upaya konservasi satwa langka di Indonesia terus berlanjut.

( Cu Ad )