BEM UHT Ingatkan Bahaya AI: Mahasiswa Jangan Jadi 'Pintar Instan' tapi Miskin Nalar Kritis
YOGYAKARTA, (Riausindo.com) – Perkembangan pesat kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak hanya membuka peluang besar di dunia pendidikan, tetapi juga menyimpan ancaman serius terhadap kualitas demokrasi dan kesadaran politik generasi muda.
Isu tersebut mengemuka dalam Opening Ceremony Pra Temu Nasional BEM Nusantara XV yang digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (27/7), melalui forum bertajuk “Nusantara Youth Movement: Konsolidasi Gagasan dan Kolaborasi Gerakan untuk Indonesia Berkemajuan.”
Dalam sesi Google Academy yang membahas transformasi digital dan kepemimpinan generasi muda, Wakil Presiden Mahasiswa BEM Universitas Hang Tuah Pekanbaru, Ahmad Dani, menyoroti fenomena yang disebutnya sebagai pseudo intellectual, yakni kondisi ketika seseorang tampak memiliki wawasan luas karena kemudahan mengakses atau menghasilkan informasi melalui AI, namun minim kemampuan berpikir kritis, analisis mendalam, dan verifikasi terhadap kebenaran informasi.
Menurut Ahmad Dani, kecepatan AI dalam menyajikan informasi memang menjadi peluang besar bagi dunia akademik dan gerakan mahasiswa.
Namun, tanpa dibarengi literasi digital yang kuat serta kesadaran politik, teknologi justru berpotensi melahirkan generasi yang mudah terjebak dalam disinformasi, manipulasi opini publik, dan kehilangan daya kritis sebagai intelektual muda.
"Kecepatan AI dalam menghasilkan informasi adalah peluang besar bagi dunia pendidikan dan gerakan mahasiswa", jelasnya.
Namun jika tidak diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, dan kesadaran politik, kita justru berpotensi melahirkan generasi pseudo intellectual, terlihat cerdas, tetapi miskin analisis dan mudah terjebak dalam disinformasi maupun manipulasi opini publik.
Ia menjelaskan, derasnya arus informasi digital juga berkaitan erat dengan masih rendahnya literasi politik di kalangan anak muda.
Tanpa kemampuan menyaring, memverifikasi, dan memahami substansi kebijakan publik, masyarakat hanya akan menjadi konsumen informasi, bukan warga negara yang aktif mengawal demokrasi dan mengkritisi kebijakan secara objektif.
Karena itu, Ahmad Dani menilai BEM Nusantara memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem literasi politik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
AI, kata dia, semestinya dimanfaatkan sebagai instrumen untuk memperkuat riset, analisis kebijakan, hingga penyusunan rekomendasi berbasis data, bukan menggantikan proses berpikir kritis mahasiswa.
"Tujuan kita bukan sekadar menciptakan mahasiswa yang melek teknologi, tetapi juga melahirkan generasi yang melek politik, memiliki kemampuan berpikir kritis, mampu memverifikasi informasi, serta menjadikan AI sebagai alat untuk memperkuat gerakan intelektual dan advokasi kebijakan, bukan sebagai pengganti cara berpikir," pungkasnya.
Pra Temu Nasional BEM Nusantara XV diharapkan menjadi momentum konsolidasi mahasiswa dari berbagai daerah untuk merumuskan gagasan strategis yang akan dibawa ke Temu Nasional BEM Nusantara XV.
Melalui kolaborasi, riset, inovasi, dan kepemimpinan yang adaptif, forum ini diharapkan melahirkan kontribusi nyata mahasiswa dalam menjawab tantangan Indonesia di era transformasi digital sekaligus memperkuat kualitas demokrasi di masa depan.**
( Ocu Ad )