Orang Tua Siswa SMAN 1 Pelalawan Pertanyakan Keputusan Sekolah

Rabu, 15 Juli 2026 - 12:19:19 WIB

Riausindo-PELALAWAN – Keputusan SMAN 1 Pelalawan, Kecamatan Pelalawan, yang menyatakan seorang siswa kelas XI tidak naik kelas menjadi sorotan. Orang tua siswa, T. Firdaus, mempertanyakan kebijakan tersebut karena menilai anaknya, T. Diki, tidak mendapatkan kesempatan dan pertimbangan yang adil.
Merasa keberatan, T. Firdaus mendatangi pihak sekolah untuk meminta penjelasan terkait alasan anaknya tidak naik ke kelas XII pada Tahun Ajaran 2025/2026.
Kepala SMAN 1 Pelalawan, Midus, menjelaskan bahwa keputusan tersebut bukan diambil secara sepihak, melainkan berdasarkan hasil rapat dewan guru yang melibatkan seluruh guru mata pelajaran.
Menurutnya, penilaian tidak hanya didasarkan pada nilai akademik, tetapi juga mempertimbangkan aspek sikap, kedisiplinan, kehadiran, serta pencapaian kompetensi siswa selama satu tahun ajaran.


"Pihak sekolah telah melakukan rapat dewan guru dan mempertimbangkan berbagai aspek. Selain capaian akademik, perilaku siswa juga menjadi salah satu pertimbangan dalam penetapan kenaikan kelas," jelas Midus.
Ia menambahkan, siswa yang bersangkutan dinilai sering terlambat, tidak mengikuti sejumlah perbaikan nilai, serta memiliki catatan perilaku yang menjadi pertimbangan guru. Kebijakan tersebut, menurutnya, mengacu pada ketentuan dan regulasi Kementerian Pendidikan mengenai kenaikan kelas.
Namun, keterangan tersebut dibantah oleh pihak keluarga. Orang tua dan siswa mengaku kecewa karena merasa keputusan tersebut tidak mempertimbangkan kondisi yang sebenarnya.
Menurut T. Firdaus, anaknya sempat tidak mengikuti tiga mata pelajaran ujian susulan karena mengalami gangguan kesehatan. Saat itu, kata dia, T. Diki harus menjalani perawatan di Klinik Harapan Bunda akibat mengalami pembengkakan di bagian dada.
Meski demikian, alasan tersebut disebut tidak menjadi pertimbangan bagi pihak sekolah untuk mengubah keputusan mengenai kenaikan kelas.
Selain itu, pihak keluarga juga menilai sekolah kurang membangun komunikasi dengan orang tua sebelum keputusan akhir ditetapkan. Mereka berharap adanya ruang dialog agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.
Permasalahan ini bahkan sempat dimusyawarahkan dan dihadiri oleh Penghulu Koto. Dalam pertemuan tersebut, penghulu berharap dapat ditemukan solusi yang tidak merugikan kedua belah pihak serta mampu menjaga hubungan baik antara sekolah dan orang tua siswa.
Bagi keluarga, keputusan tersebut menjadi pukulan berat karena dinilai memutus harapan seorang anak yang masih ingin melanjutkan pendidikan dan memperbaiki diri.
"Anak yang berperilaku kurang baik bukanlah musuh, melainkan pribadi yang membutuhkan pembinaan agar mampu berkembang menjadi lebih baik," ungkap pihak keluarga.


Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah tetap berpegang pada hasil rapat dewan guru sebagai dasar penetapan bahwa T. Diki tidak memenuhi syarat untuk naik kelas. Sementara itu, orang tua siswa berharap masih ada ruang evaluasi atau kebijakan yang dapat memberikan kesempatan bagi anaknya untuk melanjutkan pendidikan.*** Ton