Mahasiswa UMRI Gelar Diskusi Publik, Kampus Diminta Jadi Pusat Inovasi Hadapi Krisis Energi
PEKANBARU, (Riausindo.com) – Peringatan Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional 2026 di lingkungan Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) diwarnai dengan diskusi publik bertema “Masa Depan Pendidikan Indonesia di Tengah Ancaman Krisis Energi Global”, Selasa (26/5/2026).
Kegiatan ini diselenggarakan oleh BEM KM FMIPAKES UMRI bersama DPM FMIPAKES UMRI, BEM FKIP UMRI, PK IMM Ibnu Sina, dan PK IMM K.H. Hisyam sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap tantangan global yang dinilai berpotensi memengaruhi sektor pendidikan nasional.
Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Riau, Prof. Dr. Jufrizal Syahri, M.Si., dan akademisi pendidikan Drs. Mohammad Yuzar, M.Pd. Kegiatan dipandu langsung oleh Gubernur BEM KM FMIPAKES UMRI, Nanang Riyaldi.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Jufrizal Syahri menegaskan bahwa dunia pendidikan tidak boleh berjalan terpisah dari dinamika persoalan global, termasuk ancaman krisis energi yang kini menjadi perhatian dunia internasional.
Menurutnya, tantangan energi global harus dijadikan momentum bagi perguruan tinggi untuk melahirkan inovasi, riset, dan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Dengan situasi saat ini pendidikan akan terancam di tengah krisis energi global. Krisis energi bukan hanya isu sektor industri, tetapi juga isu pendidikan karena kualitas sumber daya manusia akan menentukan kemampuan bangsa dalam menghadapi tantangan tersebut. Kampus harus menjadi pusat lahirnya inovasi, riset, dan pemikiran strategis untuk masa depan Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Drs. Mohammad Yuzar, M.Pd. menilai bahwa hingga saat ini krisis energi global belum memberikan dampak signifikan terhadap sektor pendidikan Indonesia secara nasional. Hal tersebut, kata dia, tidak terlepas dari komitmen pemerintah dalam memperkuat dunia pendidikan melalui berbagai program strategis.
Ia menyebut sejumlah program seperti Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, serta pengembangan sekolah terintegrasi menjadi langkah nyata pemerintah dalam memperluas akses sekaligus meningkatkan mutu pendidikan di berbagai daerah.
“Dalam skala nasional, krisis energi global belum mempengaruhi pendidikan Indonesia secara signifikan. Hal ini karena pemerintah terus berupaya memperkuat sektor pendidikan melalui berbagai program dan kebijakan yang mendukung pemerataan serta peningkatan mutu pendidikan,” katanya.
Tak hanya itu, Mohammad Yuzar juga menyoroti langkah efisiensi energi yang mulai diterapkan di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau sebagai bentuk antisipasi terhadap tantangan energi global.
Menurutnya, kebijakan penghematan penggunaan listrik di perkantoran, termasuk imbauan untuk tidak menyalakan pendingin ruangan (AC) pada pagi hari atau saat tidak diperlukan, menjadi contoh konkret bahwa efisiensi energi dapat dilakukan tanpa mengurangi kualitas pelayanan publik maupun proses pendidikan.
“Langkah efisiensi energi perlu menjadi budaya bersama sebagai bentuk tanggung jawab dalam menghadapi tantangan energi di masa depan,” tambahnya.
Diskusi publik tersebut diikuti mahasiswa dan civitas akademika UMRI. Berbagai pertanyaan hingga gagasan kritis disampaikan peserta terkait kesiapan sistem pendidikan Indonesia menghadapi perubahan global yang dipengaruhi dinamika energi dunia.
Moderator kegiatan, Nanang Riyaldi, mengatakan diskusi publik ini merupakan bagian dari upaya mahasiswa menghadirkan ruang intelektual untuk membahas isu-isu strategis bangsa.
“Di tengah ancaman krisis energi global saat ini kita harus siap menjadi mahasiswa yang memiliki kompetensi-kompetensi unggul sehingga mampu berdaya saing global nantinya,” tutup Nanang.
Melalui kegiatan tersebut, seluruh organisasi pelaksana berharap lahir gagasan-gagasan konstruktif dari kalangan mahasiswa guna mendorong pembangunan pendidikan yang lebih adaptif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kebutuhan masa depan bangsa.
( Ocu Ad )