Bentrok Berdarah di Kebun Sawit Rohul, Satu Pekerja Tewas dan 12 Orang Diamankan Polisi

Senin, 09 Februari 2026 - 13:46:47 WIB

Rokan Hulu,(Riausindo.com) — Bentrokan berdarah pecah di areal perkebunan kelapa sawit eks PT BS, Dusun IV Rintis, Desa Sontang, Kecamatan Bonai Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, Sabtu (7/2/2026) sore. 

Insiden itu menewaskan satu orang pekerja koperasi dan melukai lima lainnya, memicu penanganan cepat aparat kepolisian.

Peristiwa tersebut melibatkan pekerja dari tiga koperasi, yakni Koperasi Sontang Bertuah, Telago Biru Sakti, dan Kelompok Tani Sakai Bersatu, dengan kelompok pengamanan swakarsa (Pam Swakarsa) PT Nusantara Sawit Majuma (NSM), mitra kerja sama operasional (KSO) PT Agrinas Palma Nusantara (APN). Bentrokan diduga dipicu ketegangan di lokasi perkebunan yang berujung adu fisik.

Kapolres Rokan Hulu melalui Kasat Reskrim Polres Rohul, AKP Tony Prawira, membenarkan kejadian tersebut. Polisi bergerak cepat dengan mengamankan 12 orang terduga pelaku untuk menjalani pemeriksaan intensif. 

“Penanganan dilakukan tanpa pandang bulu. Semua pihak yang terlibat akan diproses sesuai hukum,” ujar AKP Tony, Minggu (8/2/2026).

Korban meninggal dunia diketahui berinisial BB dan dinyatakan tewas di lokasi kejadian. Sementara lima korban lainnya mengalami luka-luka dan telah dievakuasi ke fasilitas kesehatan terdekat. 

Jenazah korban tewas dibawa ke RS Bhayangkara Pekanbaru untuk keperluan autopsi guna mengungkap penyebab pasti kematian.

Polisi juga telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengamankan sejumlah barang bukti. Selain korban jiwa dan luka-luka, bentrokan tersebut mengakibatkan kerusakan pada beberapa aset milik pekerja dan warga sekitar areal perkebunan.

Salah seorang pekerja yang selamat, Adi, mengungkapkan situasi awal di lokasi berlangsung normal. Para pekerja tengah beristirahat di barak kantor eks PT BS sekitar pukul 16.30 WIB. 

Namun, sekitar 30 menit kemudian, sekelompok Pam Swakarsa datang dan terjadi adu mulut yang berujung bentrokan. “Situasi tiba-tiba kacau, kami panik dan lari menyelamatkan diri,” katanya.

Pasca kejadian, para pekerja koperasi bersama pengurus dari tiga desa melaporkan insiden tersebut ke Polsek Bonai Darussalam. Perwakilan pekerja, Yulius Haki, menegaskan pihaknya memilih menempuh jalur hukum. 

“Kami ingin kasus ini diproses secara profesional dan transparan. Kami menuntut keadilan bagi korban dan keluarga yang ditinggalkan,” tegasnya.

( Ocu Ad  )